Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian

Pendidikan Keluarga Menjadi Acuan Untuk Menentukan Masa Depan Anak


Sumber gambar; https://www.pengetahuanku13.com/2018/05/peran-keluarga-dalam-mendidik-anak-di.html

Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian: Keluarga (orang tua) merupakan Pendidik Pertama


Lingkungan pertama yang dikenal anak setelah dilahirkan adalah keluarga. Pendidikan pertama bagi seorang anak tentu dari keluarga. Seharusnya seorang anak mendapatkan kasih sayang dan didikan dari ayah dan ibunya. Tetapi, di Era kekinian sekarang ini sebagian orang tua menyerahkan kewajiban mengasuh anak kepada orang lain seperti tenaga pengasuh anak, asisten rumah tangga ataupun tante serta kakek nenek yang berada dikampung halaman. Padahal seorang anak sangat membutuhkan sosok panutan dan kasih sayang dari orang tua. Ketika sudah besar seorang anak akan menjadi apa tergantung dari didikan keluarganya. Apabila anak dididik dengan baik seperti diberikan pendidikan agama serta pendidikan sosial yang baik tentu ketika dewasa anak akan menjadi sosok seorang pribadi yang baik. Sebaliknya, anak yang kurang kasih sayang dari orang tua akan menjadi lebih emosional, mudah terpengaruh dan tidak mempunyai pendirian yang kuat. Sehingga tidak sedikit dari mereka yang melampiaskannya pada hal-hal negatif seperti merokok, minum minuman keras dan bahkan narkoba.

Dalam pendidikan tingkat keluarga seorang anak akan belajar secara terus-menerus, bahkan dimulai sejak didalam kandungan sampai setelah lahir meginjak umur lima tahun seorang anak baru bisa belajar untuk meniru, melihat dan mengidentifikasi. Proses ini tidak bisa diabaikan begitu saja, karena seorang anak akan meniru perilaku orang didekatnya. Semisal apakah setiap hari orang tuanya tertib beribadah?, apakah setiap hari orang tuanya gemar mengaji?. Hal yang tidak disadari seperti ini akan tertanam dibenak anak dan menjadi sebuah kebiasaan dalam proses pendidikan terutama karakter anak. Tingkat intonasi ayah dan ibu dalam berbicara akan ditangkap seorang anak dan tanpa disadari dapat memprengaruhi karakter anak.

Setelah usia 5 tahun seorang anak akan memasuki dunia bermain. Seorang anak akan menirukan peran sesuai dengan apa yang telah dilihatnya. Semisal dalam sebuah permainan, anak akan menirukan tokoh ayah atau ibunya. Apabila ibunya suka berdandan maka anak akan menirukan untuk berdandan. Tidak sedikit ibu yang memarahi anaknya hanya karena anak mengambil lipstick kemudian mematahkannya menjadi dua, kemudian yang satu diberikan untuk ibu dan yang satu untuk anak tersebut.Menurut ibu hal itu merupakan kesalahan yang dilakukan oleh anak, dan pada akhirnya anaklah yang dimarahi. Padahal dari perilaku anak tersebut, anak hanya belajar berbagi dengan orang lain seperti apa yang telah dinasehatkan oleh ibunya. Tahap yang terakhir adalah Generalized Other, anak sudah mulai mengambil peran menggantikan peran orang tua. Semisal ketika ayahnya meninggal, seorang anak laki – laki akan berusaha menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin keluarga.

Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian: Pendidikan seperti proses sosial

Pendidikan itu sama seperti proses sosial. Dimana outcome yang dihasilkan akan baik jika proses yang diberikan kepada anak berupa pendidikan yang baik, sebaliknya jika proses pendidikan yang diberikan tidak baik maka outcome yang dihasilkan otomatis akan tidak baik juga. Seorang anak mulai belajar sejak dari sebelum menjadi bayi hingga sampai pada masa kembali tidak produktif lagi yaitu usia lanjut atau tua. Itu dinamakan dengan siklus pendidikan dalam kehidupan. Peran utama dalam pendidikan anak adalah keluarga dengan tokoh utama yaitu Ayah dan Ibu. Apabila terpaksa orang tua tidak bisa mendidik anak dengan 100% sempurna dikarenakan alasan karir yang harus dijalankan. Apalagi di Era kekinian pada saat sekarang ini biasanya peran orang tua dilimpahkan kepada orang yang dipercaya seperti nenek, tante dan asisten rumah tangga. Inilah yang dinamakan ekstended family. Menurut Sudiharto (2007), "Extended family adalah keluarga inti ditambah keluarga yang lain (karena hubungan darah), misalnya kakek, nenek, bibi, paman, sepupu termasuk keluarga modern, seperti orang tua tunggal, keluarga tanpa anak, serta keluarga pasangan sejenis (guy/lesbian families)".

Selain Nuclear family ada juga yang namanya Extended family. Apabila dilingkungan Nuclear family tidak bisa mengambil perannya sebagai pendidik secara penuh, maka akan dialihkan kepada lingkungan extended family. Tetapi ketika seorang anak sudah siap  keluar dari lingkungan keluarganya, maka anak akan bertemu dengan lingkungan. Lingkungan disini yang dimaksud adalah lingkungan pendidikan. Lingkungan pendidikan ada tiga yaitu lingkungan pendidikan formal, non formal, dan informal. Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.

Di lingkungan sekolah saya yakin pendidikan yang diberikan adalah pendidikan yang baik. Mulai dari Di terapkanya pedidikan karakter, pendidikan disiplin waktu, pendidikan agama, sosial budaya dan sebagainya. Sedangkan lingkungan pendidikan non formal adalah jalur pendidikan yang berada di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Adapun contoh Pendidikan non formal adalah Pendidikan Keterampilan, Kelompok Bermain & Taman Penitipan Anak, Lembaga Kursus, Pendidikan Kesetaraan yang terdiri atas Paket A, B dan C, dan lain sebagainya.

Sedangkan lingkungan Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan juga lingkungan. Contoh pendidikan Informal adalah seorang ibu yang mengajarkan anaknya untuk berlaku sopan dan menjaga etika, seorang ayah yang mendidik anaknya agar bertanggung-jawab, kakek yang menasehati cucunya agar berlaku jujur, dan lain sebagainya.

Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian: Orang tua sebagai teman untuk anak

sumber gambar: http://dadangjsn.com/

Selain pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat mempengaruhi karakter anak. Ada satu hal lagi lingkungan pendidikan yang dapat menentukan karakter seorang  anak yaitu masyarakat. Masyarakat disini salah satunya termasuk didalamnya adalah teman, atau lebih tepatnya sahabat. Teman disini adalah peran yang paling dominan setelah keluarga. Karena teman sepermainan atau teman sebaya, ini akan membentuk pola kepribadian anak. Mungkin sebelum seorang anak mempunyai teman dia adalah pribadi yang pendiam didalam keluarganya, tetapi setelah seorang anak mempunyai teman, kepribadianya mulai berubah dari yang dulunya pendiam sekarang menjadi sosok yang ceria. Kemudian ketika seorang anak masuk pada masa menuju dewasa, anak akan mengalami masa yang paling tidak stabil atau masa yang paling kritis sebagai seorang anak yang sudah merasa dewasa, yang sebenarnya belum waktunya dewasa. Hal ini oleh beberapa pakar psikolog termasuk Sigmund Freud berdasarkan Teori Psychoanalytic mengatakan bahwa ini adalah masa paling kritis untuk anak dalam belajar, untuk membentuk jati diri itu sangat dipengaruhi oleh kenyamanan dengan teman bermain atau teman sebaya

Pada masa ini lah kepercayaan anak lebih banyak tersampaikan kepada teman sebayanya daripada orang tuanya, anak lebih senang mencurahkan isi hatinya kepada teman sebayanya, karena anak merasa lebih nyaman dan lebih mendapat perhatian yang lebih dari teman dari pada orang tuanya. Hal inilah yang terkadang membuat anak mudah sekali terpengaruh terhadap apa yang dikatakan oleh teman. Maka dari itu untuk mengatasi hal tersebut, agar anak lebih nyaman dengan orang tua dan tidak mudah terpengaruh dengan perkataan temanya, sebagai orang tua harus bisa merubah metode pengasuhan nya terhadap anak. Dengan cara menganggap anak sebagai teman. Karena dengan cara orang tua menganggap anak sebagai teman akan mempermudah komunikasi antara orang tua dan anak.  Dengan terciptanya komunikasi yang baik antara anak dan orang tua maka akan sangat menentukan kepribadian anak dimasa mendatang.

Terkait dengan kekinian, moderinisasi, sekolah di Era kekinian sekarang ini tidak seperti dahulu lagi, rata-rata sekolah di Era sekarang ini menerapkan sistem pembelajaran pulang cepat. Maka dari itu sekarang  orang tua lebih mempercayakan mendidik anak dengan sistem pembelajaran full day disekolah. Sekolah dengan sistem pembelajaran full day sebenarnya adalah solusi bagi orang tua yang tidak bisa mengambil perannya sebagai orang tua secara penuh. Namun walaupun anak disekolahkan di sekolah yang mempunyai sistem pembelajaran full day, peran dan tugas utama dalam mendidik seorang anak adalah tetap orang tua. Tetapi terkadang anak juga dapat lebih berkembang jika dia mampu berosialisasi diluar lingkungan keluarganya. 


Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian: Peran Orang Tua di Era Digital 


sumber gambar: https://www.fres.co.id/mendidik-anak-di-era-digital/

Di era kekinian sekarang ini faktor yang lebih dominan selain orang tua, lembaga pendidikan, maupun teman sepermainan adalah teknologi terutama teknologi gadget. Banyak sekali pengaruh yang ditimbulkan dari penggunaan gadget ini terutama pengaruh negative. Mulai dari game online, judi online, pornografi dan lain sebagainya. Teknologi gadget akan membuat anak yang semula tidak mengetahui dunia internet menjadi sangat mengetahui akan dunia internet, kecanduan terhadap dunia internet, pola fikirnya berubah, karakternya menjadi salah, dan bahkan tidak peduli terhadap lingkungan. Itulah faktor yang lebih dominan terhadap Pendidikan anak selain keluarga, teman dan Lembaga pendidikan.

Maka solusi untuk mengatasi hal tersebut agar tidak terjadi adalah orang tua harus memberikan larangan keras terhadap penggunaan gadget sejak dini. Orang tua tidak boleh memfasilitasi anak dengan sebuah gadget untuk bermain game ataupun untuk hal lainya. Solusi agar anak tidak mudah masuk ke dunia teknologi gadget, terutama dalam dunia permainan gadget. Orang tua bisa mengalihkan anak ke dalam permainan yg sifatnya lebih ramah terhadap pendidikan karakter. Orang tua bisa mengenalkan kembali permainan-permaianan tradisional yang bersifat membentuk emosi dan intelektual yang baik terhadap anak. Contoh sederhananya adalah permainan tradisional dakon atau congkak, dengan permainan tradisional dakon atau congkak ini maka akan melatih emosional serta mengasah kemampuan menghitung seorang anak. Maka permainan tradisional ini bisa menjadi salah satu solusi dan media pengalih dari dunia teknologi yang bersifat negatif. 

Selain itu orang tua juga bisa mengajarkan terhadap anaknya bahwa bermain itu tidak hanya di tempat-tempat mewah seperti mall. Tetapi anak dapat diajak bermain ke tempat-tempat yang alami seperti taman binatang atau taman budaya agar anak benar-benar mengenal dunia nyata yang ada diluar. Tidak hanya itu saja, orang tua juga bisa mengajarkan kepada anak untuk dapat berinteraksi dengan orang-orang yang kurang mampu dalam per ekonomianya. Sehingga orientasi anak tidak hanya terhadap barang-barang yang serba mewah dan canggih. Tetapi orientasi anak lebih condong terhadap sesuatu yang positif.

Tujuan anak dikenalkan dengan permainan tradisional dan dikenalkan dengan lingkungan-lingkungan alam, serta lingkungan orang-orang sederhana adalah agar anak ketika tumbuh dewasa, anak bisa lebih dewasa dalam menyikapi hadirnya teknologi dalam kehidupanya dan bahkan bisa lebih memanfaatkan teknologi dengan baik dan positif. Maka sebagai orang tua jangan pernah takut dan mempunyai persepsi bahwa apabila anaknya tidak dibiarkan bermain teknologi nanti anaknya menjadi kuper ataupun gaptek. Karena semuanya akan ada waktunya sendiri.

Apabila ada orang tua memaksa bahwa teknologi dan game itu perlu untuk seorang anak, dengan dasar bahwa tidak semua teknologi dan game itu negative, maka silahkan perbolehkan anak dalam mengoperasikan teknologi ataupun game tersebut dengan syarat hanya satu kali dalam satu hari ketika hari libur dengan waktu yang sangat wajar, dan tentunya dengan adanya pendampingan dari orang tua, agar orang tua bisa mengetahui permainan yang dimainkan sesuai tidak dengan umur anak tersebut, sehingga orang tua lah yang mengambil peran dalam mengarahkan dan memahamkan anak tentang apa saja hal yang baik ataupun yang tidak baik untuk anaknya.

Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian: Metode pembentukan karakter yang baik berasal dari orang tua

Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian, Sumber gambar: https://paud-anakbermainbelajar.blogspot.com

Metode pembentukan karakter yang baik terhadap anak bisa dilakukan oleh orang tua dengan cara membiasakan menggunakan kata “maaf” dan “tolong” ketika memerintahkan sesuatu terhadap anak. Apabila kita butuh pertolongan yang ingin disampaikan kepada anak, maka awali dengan ucapan “tolong”. Apabila anak merespon kita maka kita ucapkan “terimakasih”, dan pada saat kita ingin mengingatkan atau memerintahkan sesuatu kepada anak, maka harus diawali dengan ucapan “maaf” . Sehingga kebiasaan itu akan membentuk karakter yang baik terhadap pribadi anak. Dan menjadikan anak lebih paham terhadap apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Memang untuk masyarakat di Indonesia sekarang ini belum sepenuhnya bahkan hanya sebagian kecil saja yang sadar akan pentingnya pendidikan anak. Maka dari itu solusi dari itu semua adalah yang jelas kita harus mengambil porsi itu sesuai dengan porsi kita dimasyarakat dimanapun kita berada. Contohnya sekarang sudah banyak penyuluhan yang sudah diselenggarakan di lingkungan masyarakat terutama dilingkungan ibu-ibu PKK. 

Sudah banyak penyuluhan tentang pendidikan diberikan seperti penyuluhan pendidikan di usia dini, PAUD, kemudian penyuluhan bagaimana mendidik anak dengan cara menjadi teman bagi anak, kemudian selain itu banyak tips-tips sehat juga sudah banyak disampaikan di forum ibu-ibu PKK seperti itu. Maka materi yang perlu ditanamkan dalam penyuluhan-penyuluhan tersebut adalah tentang contoh-contoh ketidakberhasilan dalam mendidik dan contoh-contoh keberhasilan dalam mendidik. Diberikan gambaran buruk yang diakibatkan oleh didikan yang tidak benar itu seperti apa, kemudian diperlihatkan juga gambaran anak-anak sukses karena orang tuanya yang selalu memperhatikan dan mendidiknya dengan benar dan selalu memberikan contoh baik kepada anaknya. Maka dengan begitu orang tua akan menyadari bahwa orang tua yang asik dengan dunianya dan tidak meluangkan waktu untuk anaknya itu adalah salah. Karena kehidupan orang tua suatu saat nanti itu akan ditentukan oleh perlakuanya terhadap anaknya. Apabila anak tidak sukses maka orang tua itu sendiri yang akan ikut menderita. Sebaliknya apabila anak sukses maka orang tua akan ikut bahagia, karena kesuksesan anaknya tersebut.

Baca juga


Mendidik anak dengan baik dan benar itu harus ada pengorbanan dari orang tua. Pengorbanan yang dimaksud disini adalah mengorbankan waktunya atau sesuatu yang dirasa berat untuk dilakukan tetapi orang tua rela melakukanya demi anak, walupun itu berat bagi orang tua. Misalnya orang tua jarang berpuasa, tetapi karena ingin anaknya menjadi orang yang bertaqwa dengan mengikuti perilaku orang tuanya, maka orang tua mengharuskan dirinya untuk berpuasa untuk mengajari anaknya berpuasa. Jadi memang harus ada penderitaan dari orang tua untuk kesuksesan anaknya dimasa depan. Karena semua itu pasti ada reward nya.

Pendidikan anak itu penting, karena tanpa pendidikan seorang anak tidak akan mencapai kesuksesan. Kesuksesan anak mengacu pada pendidikan dan perhatian orang tua. Maka dari itu pendidikan dan perhatian orang tua sangatlah diperlukan untuk memotivasi anak agar dapat menggapai kesuksesan dimasa depan. #sahabatkeluarga

Tema
“Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian”

Referensi artikel Sahabat Keluarga Kemdikbud 


https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4931

0 comments